WhatsApp
saat ini dikenal sebagai salah satu aplikasi instan messaging yang paling
banyak digunakan di dunia. Pendiri WhatsApp yaitu Jan Koum bersama dengan Brian
Acton. Jan Koum banyak menghabiskan waktunya dengan mengembangkan aplikasi
ciptaannya tersebut meskipun aplikasi WhatsApp buatnnya masih sering mengalami
crash dan bisa dikatakan belum sempurna dan masih dalam versi awal.
Saat
diluncurkan pun, aplikasinya hanya di download sekitar 250 orang saja, dan
kebanyakan dari teman-teman Jan Koum sendiri. Perkembangan WhatsApp yang lambat
membuat Jan Koum hampir menyerah. Dari situ timbul niat Jan Koum untuk
menghentikan pengembangan aplikasi tersebut dan berniat untuk bekerja apa saja.
Ketika hampir menyerah, teman baiknya, Brian Acton kemudian menyuruhnya untuk
terus mengembangkan aplikasi WhatsApp buatan Jan Koum dan memberi waktu
beberapa bulan melihat potensi besar aplikasi tersebut.
Versi
awal WhatsApp hanyalah sebagai update status di kontak telepon di Iphone.
Kemudian Jan Koum merilis WhatsApp v2.0 yang dilengkapi dengan fitur pesan
instan yang kemudian berhasil menaikkan jumlah pengguna aplikasi tersebut
menjadi 250 ribu pengguna. Saingan aplikasi WhatsApp ketika itu hanyalah
Blackberry Messengger (BBM) saja, namun melihat terbatasnya penggunaan BBM
hanya di ponsel Blackberry saja maka Jan Koum terus mengembangkan aplikasinya.
WhatsApp
kemudian terus dikembangkan oleh Jan Koum dengan berhasil meluncurkan fitur
pengiriman foto pada tahun 2009 di Iphone selain itu ia juga merilis WhatsApp
untuk device lain seperti Android dan Blackberry.
Kemudian
WhatsApp diubah menjadi aplikasi berbayar pada tahun 2010 dan mereka berhasil
memperoleh pendapatan sebesar 5000 dollar pada bulan pertama. Hal ini kemudian
membuat investor lain banyak berdatangan untuk menanamkan modalnya di WhatsApp
seperti Sequoia Capital yang menyuntikkan dana sebesar 8 Juta Dollar.
Memasuki
tahun 2011, WhatsApp buatan Jan Koum berhasil masuk dalam 20 besar aplikasi
populer di App Store da sekali lagi Sequoia Capital kembali menyuntikkan dana
sebesar 50 juta dollar ke WhatsApp dan membuat nilai WhatsApp melambung menjadi
1,5 Milyar Dollar. Hal ini kemudian membuat perusahaan Facebook merayu Jan Koum
untuk menjual WhatsApp, Namun ditolak oleh Jan Koum. Terus berkembang kemudian
pada tahun 2013, WhatsApp berhasil memiliki pengguna aktif sekitar 200 juta.
Google
dan Facebook kemudian berebut untuk mengakusisi WhatsApp yang sangat itu
berkembang dengan pesat. Hingga kemudian pada tahun 2013, Jan Koum bersama
Brian Acton setuju untuk menjual WhatsApp ke Facebook dengan nilai sebesar 19
Millar Dollar. Menjadikan keduanya sebagai orang kaya baru berkat perjuangan
mereka mengembangkan aplikasi WhatsApp. Jan Koum sendiri setelah aplikasinya
berhasil dibeli oleh Facebook, kekayaannya melonjak drastis sebesar 6,8 Milyar
Dollar atau sekitar 80 Trilyun Rupiah, dan di tahun 2015 lalu kekayaannya naik
sebesar 7,9 Milyar Dollar atau sekitar 109 Trilyun rupiah menurut majalah
Forbes.
Dampak Positif dan Negatif dari Pengguna
WhatsApp
Dampak Positif
- Dengan jaringan sosial ini bisa bermanfaat dan
berperan untuk mempertemukan kembali keluarga atau kerabat yang jauh dan
sudah lama tidak bertemu, kemudian lewat dunia maya hal itu bisa
dilakukan.
- Memperluas jaringan pertemanan. Dengan menggunakan jejaring sosial, kita bisa berkomunikasi dengan siapa saja, bahkan dengan orang yang belum kita kenal sekalipun dari berbagai penjuru dunia.
Dampak Negatif
- Susah bersosialisasi dengan orang sekitar. Ini disebabkan karena pengguna sosial media menjadi malas belajar berkomunikasi secara nyata.
- Situs
sosial media akan membuat seseorang lebih mementingkan diri sendiri.
Mereka menjadi tidak sadar akan lingkungan sekitar mereka, karena
kebanyakan menghabiskan waktu di internet.
Menurut, Georg Simmel
menerapkan model berfikir ini tentang kenyataan sosial, ia menyadari bahwa
perkembangan pengetahuan sosiologi meliputi lebih daripada hanya sekedar
mencatat hukum-hukum universal yang jelas tersingkap oleh data empiris.
Sebaliknya pikiran manusia dalam menjalankan fungsi memilih, mengorganisasi
pada waktu menginterpretasikan data empiris, ia menggunakan kriterianya sendiri
dalam proses ini yang tidak terdapat dalam fakta empiris itu sendiri.
Sedangkan menurut,
Mintz (1983) bahwa produk populer tergantung kepada siapa yang terlibat dalam
proses penciptaannya serta siapa yang menggunakannya sehingga motif dan fungsi
produk tersebut menjadi lebih penting dari pada nilai estetik karya tersebut.
Kesimpulan
WhatsApp bisa
digunakan dikalangan apa saja dari yang muda sampai tua. WhatsApp sangat
populer dikalangan anak muda karena mereka sangat mengikuti jaman. Karena
mereka tidak ingin yang namanya ketinggalan jaman. Sehingga anak muda jaman
sekarang selalu mengikuti berita kekinian.
Referensi
Fiksi Populer, Ida
Rochani Adi
Pengantar Sosiologi
Sastra, Prof. Dr. Faruk

Tidak ada komentar:
Posting Komentar